Lookism

Where the lookists would just sit, and stare…

What happens to Papa T. Bob?

Posted by lookism on February 7, 2009

Di bawah sinar matahari pagi, wajah berseri-seri

Kita semua tiap hari mandi, di sungai jernih murni

Lihatlah lihat embun pagi hari, menghias bunga melati

Menari-nari, bersinar berseri membawa salam pagi

A very old song from my very old memory (thank God masih bisa ingat ini) yang sampai sekarang masih menempel somewhere on my brain cells. I used to sing it together with my mom, or when my elementary teacher told us to sing individually in front of the class.

Lagu yang sangat sederhana, by Ibu Kasur perhaps, I am not sure. Tipikal lagu anak-anak jaman dulu yang memang tidak akan memusingkan si anak dengan line-line yang rumit dan gak bakal mereka mengerti.

Mungkin gak perlu kembali mundur sejauh era Ibu Kasur, tapi lagu anak-anak setelah masa itu juga masih cukup enak dan pantas didengar. Semacam Melisa’s Abang Tukang Bakso, Giovani’s Ayo Menabung, atau Si Komo Lewat by Kak Seto. And then, what happened? Silence. Another silence. A long period of silence. Of course, there was Sherina. But that’s just it.

Dan, bertahun-tahun setelah itu??? BOOM!!! Everybody seems to be amazed by the the so-called reality-show-in-search-of-new-stars. You name it, AFI, KDI, Indonesian Idol, and a whole lot more. The worst thing is, they all have their own junior version. Nah, disinilah semuanya terasa begitu menyakitkan (dramatisir dikit gak papalah).

Gimana gak menyakitkan, saat melihat seorang anak berumur kira-kira 7-8 tahun menyanyikan lagu-lagu Peter Pan, D’Massiv, Kerispatih, and others. Kata-kata macam, “Cinta kita”, “Bersamamu”, “Jangan tinggalkan aku”, bertebaran dimana-mana. What the…???

Siapa yang harus disalahkan? Mereka diharuskan menyanyi setiap minggu, dengan lagu berbeda. Pilihan apa lagi yang mereka punya? And to be honest, singing “Balonku ada lime” even in R&B version won’t get them those sms they need to win the competition. I just wish we have more children song writer, and the industry can have the strong will to support it. But again, no sms = no money for the industry. And then we can have another equation. Oh well…

Posted in Another Day in Life | Leave a Comment »

R-E-S-P-E-C-T

Posted by lookism on June 10, 2008

Siap…!!

Beri salam! Seeelaaamaaat paagiiii Bu Guruuu…

Kalimat itu umum banget didengar pada jaman sekolah SD dulu. Gak tau gimana di sekolah2 sekarang. Yang jelas, begitu ketua kelas berdiri dan mulai dengan komandonya, seisi kelas yang tadinya sibuk dengan serutan pensil, PR yang belum selesai, ngebahas model sepatu terbaru, episode satria baja hitam kemarin, atau ngelirik temen cewek yang duduknya gak bener bakal serentak merhatiin pintu and ngucapin salam buat Bapak/Ibu Guru yang masuk.

Sounds military indeed, tapi cara itu terbukti membuat siswa bisa membedakan kapan mereka bisa sibuk dengan serutannya dan kapan mereka harus mulai buka buku pelajaran berikutnya.

These days, siswa gak sibuk dengan serutan atau PR yang belum selesai. Well, maybe they do. But I’m not talking about the regular school here. This will be about the extra courses that students go to after school. Extra courses yang seringkali menguras dalam-dalam kantong orang tua mereka, dengan  atau tanpa mereka sadari (seringnya sih nggak). Todays, they are busy with their laptops, cellphones and gadget2 sejenis yang membuat mereka “terlihat” (karena mungkin aja sebenanya nggak) keren, update and melek teknologi. Sayangnya, saking pinginnya terlihat keren dll tadi, tujuan sebenarnya mereka datang ke tempat krusus tadi malah jadi nggak penting buat mereka. Karena nggak penting, maka respek mereka terhadap sang guru/instruktur/tutor pun jadi lebih tidak penting. It’s like, “Yea… yea… yea… I know u’r the teacher. So what?.”

Believe me, saat berada di possisi sang guru/instruktur/tutor tadi, siapa saja bakal pingin melotot and ngelempar something ke murid-murid itu, sambil ngomong, “Sebenarnya kalian niat gak sih mau belajar disini? Kalo gak niat, keluar aja. Leave the space for those who are really into this learning thing.”

Basically I don’t mind with all these gadgets being in the classroom, as long as they’re actually used to help the kids in the learning process. Banyak juga murid yang ngeluarin N73-nya, untuk ngecek arti kata2 baru yang masih aneh buat mereka di program dictionarynya. Murid-murid yang kayak gini, keliatan jelas beda niatnya datang ke lembaga kursus.

Kalau gak bisa respect sekolahnya, teman sekelasnya, and gurunya, bakal tumbuh jadi manusia seperti apa yah siswa-siswa itu. I wonder…

Posted in Another Day in Life | 1 Comment »

Tartar Sauce

Posted by lookism on March 21, 2008

weather.jpg

The four-day holidays minggu ini jadi punya banyak waktu untuk nonton film. Salah satunya The Weather Man, starring Nicholas Cage. Jadul sih, tapi karena belum pernah lihat and I’m a big fan of him I just thought that it would be fun.

My brother said that it’s boring. On the other hand, I think it’s wonderful. Memang, jalan ceritanya mungkin terlalu lambat buat sebagian orang, but for me itu malah membuat filmnya jadi kaya dengan detail.

Film ini penuh dengan kesedihan, kekecewaan, dan kegagalan seorang pria. Ia gagal dalam membuat ayahnya bangga terhadapnya, begitu juga dengan keluarganya yang berantakan.

Yang menarik (for me), ada salah satu klimaks pertengkaran antara suami-isteri ini yang akan selalu diingat, terutama oleh para wanita ;) . “Don’t forget the tartar sauce!”

Yup. Guys, don’t you ever… ever… forget the tartar sauce!

Posted in Another Day in Life | 5 Comments »

Grow Old With You…

Posted by lookism on March 10, 2008

Hari ini seperti biasa, naik angkot on my way to teach. Berhubung rumah agak di pedalaman, jadi harus pake acara pindah angkot. Di angkot yang kedua, ngeliat pemandangan yang untuk kesekian kalinya bikin mikir soal “do we really have a soulmate in this world.”

Supir angkot itu, an old man (kalau gak mau bilang “kakek2″) ditemani co-pilotnya yang ibu2 tapi semangat nyari penumpangnya gak kalah sama jupang terminal Landungsari. Semua orang yang lihat pasti mikir itu istrinya, dan kayaknya emang iya. Walau dalam situasi yang sangat tidak romantis; panas, rame, macet, salip kiri salip kanan sama angkot lain; to my eyes, they were undoubtly romantic.

Bukannya bermaksud untuk nguping, but it was interesting to see that sang ibu, dengan bawaan ibu2 yang umumnya cerewet, ngomooong teruusss. Cerita soal saudaranya, temannya, etc. Dan sang bapak, keliatan dengan sabar ngikutin cerita istrinya, sambil terkadang memberi komentar walaupun pendek.

Wah, sirik banget deh ngeliatnya. Dalam suasana yang “gak banget” aja, mereka seperti gak bisa dipisahkan, lengket banget. The way they look at each other made me think will I ever be able to do the same to my future partner.

Anyway, the situation brought an old song of Adam Sandler, Grow Old With You, to my mind. A song that will definitely sound funny and stupid to famous song composers like Melly or Pongky, but simply perfect for me.

To me, the song is just… enough.

Posted in Another Day in Life | 2 Comments »

Suparno

Posted by lookism on December 26, 2007

To be honest, saya tidak terlalu bersemangat mengirimkan sms Natal ini. I thought, it won’t make a big different whether I send one or not. Toh hari istimewa itu pasti dipenuhi suasana damai dan bahagia pada semua yang merayakannya. A single sms won’t bring much more effect to the receiver. Unless of course, the people are in love. Well, in that case, it’s different.  

I’m pretty sure cukup banyak orang yang akhirnya terjebak atau maksa mengirimkan sms2 yang menurut mereka “berisi”, dengan segala macam puisi dan kalimat bijak, yang ujung2nya basi, karena hanya hasil forward-an dari sms yang mereka terima sebelumnya, dan menurut mereka cukup bagus untuk diteruskan. 

This Christmas, dapat sms cukup banyak dari saudara, teman kerja, teman lama, and others. Isinya bermacam-macam. Mostly tentu saja, kalimat umum “Merry X-mas & Happy New Year”. Some others, sepertinya memilih tidak mengucapkannya sama sekali.

 Entah kenapa, kok ya ngerasa lebih adem baca kalimat cliché itu, yang biasa banget ditemukan di spanduk2, pintu gedung kantor, sekolah, or other public places. Probably coz I’ve been reading some about those “forbidden rules of greeting people of different religion”. Tapi jangan khawatir. Ada saja caranya yang so-called “tidak membuat kamu berdosa”. Instead of saying “Selamat Natal”, you will hear “Selamat berhari raya”, “Selamat merayakan”, and selamat raya2 lainnya. Jalan raya kaleee… 

Hey, I’m totally fine with that. Whatever.Kalau memang mau mengucapkan, monggo… Tidak mengucapkan karena takut berdosa, or simply lupa, juga tidak apa2. It’s a matter of being sincere or not. Dan tentu saja, jauhi dosa. Nobody wants you to go to hell over a stupid thing, which is greeting people in celebration. Gak penting banget. 

Oh by the way, when I said celebration, I MEAN any kinds of celebration. 

Merry X-mas & Happy New Year.

Posted in Another Day in Life | Leave a Comment »

Pasrah, ikhlas…

Posted by lookism on December 12, 2007

Seringkali kita bertemu dengan situasi, orang, pekerjaan, and other things yang bikin kita ngerasa uncomfortable, unsecured, or even worse, hopeless. Pingin teriak atau protes, tapi yang buat segalanya lebih buruk, terkadang kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah semua itu. Dan saat itu, yang bisa kita lakukan hanya pasrah… ikhlas…

Betapa ringannya langkah dan hidup jika bisa selalu seperti itu. Sayangnya, susaaaahhh sekali untuk pasrah dan ikhlas. Ibaratnya, seperti orang gak bisa renang yang dicemplungin ke kolam yang 3 meter dalamnya. Megap-megap deh. Bagaimana tidak, ketemu keadaan yang sulit dan tidak sesuai dengan keinginan kita, tapi tidak bisa begitu saja merubahnya. Oh…

Pasrah…

Iklas…

Dengarnya aja udah bikin tenang. Hmm…

 

 

 

 

 

Posted in Another Day in Life | Leave a Comment »

In Quest for Mr. Right

Posted by lookism on December 4, 2007

Tulisan kali ini khusus untuk para wanita. Para wanita yang sedang dalam proses pencarian, akan sebuah sosok (sebuah???) pria sempurna, di mata mereka tentu saja.

Tetapi, kapan seorang pria itu bisa dikatakan “sempurna”? Atau, kapan kita bisa mengatakan, “OK, this is it. This is what i want. This is what I have been waiting for. My search has ended”.

Mr. Right or Mr. perfect. Siapa sih yang tidak mau bertemu dia? Seseorang yang membuat kita merasa istimewa… Seseorang yang membuat kita melupakan Brad Pitt, David Beckham, Nicholas Saputra, atau bahkan Andi Malarangeng (well, yang terakhir ini untuk para wanita yang maniak sama kumis tebal :D ).

Nah, tidak berlebihan tentunya, kalau saya punya kriteria dalam menentukan, kapan kita bisa teriak, “INI DIA!” (dalam hati juga boleh kok). Berikut ini, kriteria-kriteria itu:

1. Saat kamu bisa memesan apapun yang kamu inginkan dari daftar menu di restoran, warung, cafe, bar, tanpa harus takut ia mengernyit melihat nafsu makanmu, atau sisa cabe di gigimu.

2. Saat kamu bisa pergi berenang bersama, dengan baju renang standar, tanpa harus khawatir dia akan terpana melihat garis-garis selulit di bokong indahmu.

3. Saat ia tetap menemanimu berbelanja, walaupun underwear ada dalam daftar belanjaanmu, dan perlu waktu lebih dari 1 jam untuk memutuskan, apakah pink dan kuning belum ada dalam koleksimu.

4. Saat ia dengan tenangnya merapikan rumah (atau kamar)mu ketika kamu sakit, dan ingin diperhatikan, atau saat kamu hanya ingin bermanja dan sedikit malas.

5. Saat ia selalu mendengarkan setiap keluhanmu, termasuk tentang boss barumu yang killer, teman kerjamu yang kecentilan, tantemu yang aneh, sepupumu yang super reseh, dan berbagai hal-hal ajaib lainnya.

6. Saat ia tanpa protes tetap duduk di sampingmu, menonton film komedi romantis yang hanya memiliki happy ending, walaupun ada film-film action dan horror terbaru di depan matanya.

7. Saat ia ingat bagian mana yang kamu sukai dari seekor ayam ketika makan di rumah makan padang, atau buah favoritmu saat melewati pasar buah, atau kue kesukaanmu waktu jalan ke pasar pagi.

8. Saat kamu tanpa ragu membukakannya pintu walaupun baru bangun dari tidur, masih dengan kaos kaki kebanggaanmu, dan rambut yang terlihat lebih buruk daripada Don King.

9. Saat kamu tidak perlu merapikan segalanya hanya karena ia akan segera datang.

Dan yang terakhir, tetapi menurut saya yang paling menentukan segalanya:

10. Saat ia bilang, dan selalu mengingatkanmu di saat ragu, “Takdir itu hanya satu. Kamu takdir saya”.

So, have you found your Mr. Right?

Posted in Another Day in Life | 1 Comment »

And you are…?

Posted by lookism on November 30, 2007

Feeling useless. Pernah gak punya perasaan itu? Seperti tidak berguna… tidak dibutuhkan… tidak diperlukan… Seperti ingin teriak, “Hey… look at me. I am here. I exist!”.

I guess I’ve stepped in to the next level of Maslow’s theory. And damn, he’s right.

Setelah semua kebutuhan lainnya terpenuhi, maka tanpa bisa dihindari lagi, kebutuhan pengakuan diri dari orang lain di sekeliling kita muncul begitu saja. Yep, begitu saja. Kayak jerawat di jidat ABG. So normal, so inevitable. Dan harus apa kita saat kebutuhan itu merongrong dan menghabiskan segala emosi yang ada? Yah, kalo kata Bang Benyamin, “Bujug buneng… sampe di ubun-ubun neehh…”.

Oh, I hope it’s not just the effect of the stupid hormones (poor hormones, they always got the blame). I hope it’s a sign for me to move on. To decide what I’m gonna do with my life. To recognize more of the time I’ve spent all along. Moreover, to respect every little chances and opportunities that sometimes just sitting there, right in front of my nose, waiting for me to grab them.

Posted in Another Day in Life | Leave a Comment »

Awww…!!!

Posted by lookism on November 24, 2007

(iringan musik “Ive Got the World on A String”nya Michael Buble)

Hari yang cerah. Bikin mood kerja ikut kebawa cerah.

Seharusnya.

Semestinya.

(iringan musik terdengar kayak pita kaset kusut)

And there it was, a group of ladies with their mouth mumbling… cursing…

Awalnya, gak begitu jelas apa sebabnya. Tapi setelah cukup banyak yang terdengar, dan bisa diproses oleh otak saya yang menganut paham KISS ini, jadi pingin ikutan mengutuk dan memaki.

WHAT??!! He really did that? He actually did that in front of you??

We’re just girls. Dan saya rasa reaksi seperti itu wajar sekali datang dari perempuan2 yang masih shock, tidak percaya bahwa mereka baru saja bertemu dengan salah satu anggota The Exhibisionist Club. Ini bukan cerita pertama yang saya dengar. Bahkan, saya pernah mengalaminya sendiri. Dengan bangganya pria itu menunjukkan “barang berharganya”, mungkin dengan harapan saya akan takjub dan mengaguminya (atau “barangnya”?). Dan tentu saja, instead of being amazed, I freaked out like hell and screamed. Hasilnya, dia dengan sukses dikejar-kejar teman kuliah, karena nekat menyalurkan bakatnya di tengah kampus.

Itu tadi pengalaman pertama. Yang kemudian, karena sudah cukup “berpengalaman”, I handlde it quite nicely. Masih di daerah kampus, dengan kostum “anak kuliahan” (jadi berpikir, are they actually educated people, yang kebetulan punya cara-cara aneh untuk mengekpresikan diri mereka). I was passing through and thought it was normal to see a guy standing in pee position against the wall (although they usually do it on the sides of the highway). Ternyata, he’s not only interested in wetting the wall, tapi juga dengan murah hati berkenan menunjukkan his “precious thing”. Wah… 3x. My response? Looked at him straight to his eyes, showing either a smile or frown. Walked calmly without showing my nervousness or upset, and started to yell – only in my mind – “Man… you need help, a BIG help”.

Lucu juga sih, dengar komentar cewek2 setelah pada hilang tegangnya dengar cerita pagi ini.

“Wah, kalo ketemu gue, gue sentil tuh barangnya!”.

“Kalo aku, tak bilangin, Pak… Pak… barang segitu aja dipamer-pamerin, nggak ada yang lebih bagus apa?”

“Duh, kenapa gak ketemu aku sih orang itu? Sekali-kali pingin lihat…”

Semua komentar itu memang bisa bikin kita senyum-senyum dengarnya. Tapi, seandainya para pria sakit jiwa itu benar-benar dengar, kira-kira apa ya yang mereka pikirkan…

Posted in Another Day in Life | 1 Comment »

Sports Maniac

Posted by lookism on November 21, 2007

Hari ini Rabu. Dan setiap Rabu.. badminton!!! Jago nggak, pinter juga nggak, yang penting olah raga jalan terus. Lebih tepatnya, olah raga yang disempat2kan. Gimana gak disempat2kan, udah tempatnya jauuuuhhhh… waktunya juga malam. Jadi kelewatan Naruto, hiks.

Seru memang, sometimes hillarious juga, melihat betapa teman2 yang memang sudah ‘pro’ harus bermaklum diri dengan kita-kita yang sekedar modal ’sotoy’ doang. Makasih ya Bapak-Bapak.. yang sudah dengan penuh kesabaran mengikuti mau para ‘anak didik’ ini, hahahaha…

Semoga aja cepat terkabul, dapat tempat latihan yang lebih dekat. Biar lebih niat, biar cepat pintar, biar gak ngerepotin para pemain profesional itu ;) Ayo, olah raga!!!

Posted in Another Day in Life | Leave a Comment »